Para Pendaki Gunung Batur

Warung Kecil itu berdiri kokoh di atas ketinggian kira-kira 1700 meter dari permukaan laut. Setengah dari dindingnya terbuat dari campuran semen. Atapnya pun cukup kuat menahan hembusan angin serta hujan. Para pendaki Gunung Batur pasti merasa nyaman berlindung   di tempat itu.

 

Selain itu, Gunung Abang dan Gunung Agung bisa terlihat jelas dari situ,
bahkan para pendaki langsung dapat menyaksikan di Kejauhan Puncak Bukit Rinjani di Pulau Lombok dan sekaligus menanti terbitnya matahari pagi dari balik bukitnya. Benar-benar tempat itu amatlah strategis. Apalagi letaknya hanya beberapa langkah dari bibir kawah yang masih mengepulkan asap panas.

Kebetulan waktu telah menunjukkan pukul lima pagi lebih dua puluh menit. Sebagian besar para pendaki  Gunung Batur baru saja mencapai tempat itu. Dan beberapa orang lagi terlihat berjalan lambat bak meyeret kakinya satu demi satu di atas tanjakan yang kurang begitu terjal dan panjang. Mungkin karena fisik mereka yang kurang siap atau hal lain yang kurang begitu jelas. Aku serta beberapa guide lokal untuk group kami dari Jerman berjumlah enam belas orang baru saja mencapai tempat itu. Di luar situ cuaca masih cukup dingin. Bahkan hembusan angin dan kabut tipis yang menyelimuti gunung batur terus saja mengganggu penglihatan kami. Dengan kondisi fisik yang lemas ada rasa syukur di hati kami masing-masing karena kami pun telah hadir di tempat itu. Dengan tidak berlama-lama, lalu kami pun menyelinap masuk dan duduk di antara bangku-bangku panjang yang masih kosong. Meskipun beberapa dari kami masih saja berdiri dan mondar-mandir di antara 70-an orang yang memadati warung itu. Kebanyakan adalah tourist asing yang datang dari berbagai negara untuk menikmati keindahan alam dan volcano bali.

Dari bilik dapur yang diterangi cahaya lampu minyak, pemilik warung sibuk menyiapkan sarapan dan minuman buat para pengunjung. Ada kopi panas, ada teh panas dan ada juga sarapan ala kadarnya. Seorang Tourist Jerman dari group lain sempat menghampiri dan bertanya: Was kostet eine Tasse Kaffee ? Pemilik warung itu menjawab singkat, “Twenty tausend rupiah”. Ternyata dia mengerti pertanyaan tourist Jerman itu, tapi menjawabnya dalam bahasa Inggris. Yaa..sama-sama paham. Bule Jerman itu paham betapa mahalnya di tempat itu secangkir kopi. Meski pun “mahal” kata sebagian tourist, tapi kopi atau teh panas itu telah membantu menghangatkan tubuhnya. Untunglah group kami telah dibekali oleh perusahan dengan perbekalan berupa roti, snack,buah dan minuman ( kopi dan teh panas ). Capek di badan berangsur hilang.
Pagi ini lagi-lagi pemilik warung itu, orang-orang memanggilnya pak Dipa, berhasil meraup banyak rezki. Rata-rata dari Tourist asing. Selain itu para pemandu lokal dan penjaja minuman juga keciprat rezeki, meskipun ada juga penjaja minuman yang minumannya tidak laku terjual. Padahal mereka sejak pagi buta berangkat menemani tamunya masing-masing hingga tiba di tempat itu. Mungkin itulah rahasia Tuhan. Ada yang mendapat banyak. Ada yang meraih sedikit. Dan ada pula yang tidak mendapat apa-apa meskipun telah berjalan di atas tanjakan dengan keringat di badan.

Panorama alam di sekeliling kami menjadi tujuan utama di pagi hari yang mulai cerah. Berharap ada keberuntungan yang bisa dibawa pulang. Berbekal kamera digital delapan megapixel aku pun tak mau ketinggalan mengabadikan keindahan yang mulai terlukis di Puncak ini. Volcano Bali yang menjadi kebanggaan khususnya penduduk Kintamani.
Kembali aku menghirup secangkir kopi sambil melepaskan bola mataku ke arah puncak bukit Rinjani ( 3726M ). Dari balik bukit itu, matahari perlahan-lahan merangkak naik. Dan keindahan pun mulai merekah. Serentak kami pun beranjak dari tempat duduk setelah sejam berharap datangnya harapan. Kami keluar dan berdiri di bawah langit terbuka. Gumpalan kabut berganti cerahnya pagi mungkin adalah harapan yang sudah terjawab. Ooh …betapa lukisan alam dan keindahannya terus saja menggoda kami. Sebut saja alam yang menjadi situ kehidupan. Kita menampung serta mengalirkan kearifan dan kebijaksanaan ilahiyah. Semoga itu pun tetap lahir di tengah-tengah kita semua. Seperti lahirnya keindahan alam yang sedang kita saksikan saat ini.
Selintas di bawah sana danau batur mulai terlihat jelas ketika permukaannya perlahan-lahan terlepas dari lipatan kabut. Sedikit ada cahaya yang terpantul dari permukaannya. Di atas sini temperatur udara masih terasa dingin meskipun matahari baru saja beranjak naik. Dan kuperhatikan setiap Tourist berwajah gembira.

Beberapa saat kemuadian, kutinggalkan tempat ini dengan sebuah kenangan. Hanya kenangan indah yang terlukis di sini – alam yang masih bersahabat. Anak-anak cucu kita belajarlah dari alam dan berbuatlah untuk kemaslahatannya. Kata orang bijak: “Sesuatu yang diakhiri dengan yang salah, diawali dengan yang salah. Proses yang mengantarai keduanya menjadi penunjang proses awal yang telah salah”.

Volcano Bali :: Mount Batur ( 1717M ) – Mount Agung ( 3142M ).
Posted by Okicelebes